Senin, 11 Maret 2013

Lisa dan Kembang Api Simpang Lima


Gadis-gadis kecil itu berlari menuju lift, mendorong kursi roda seorang anak laki-laki berbau satai dengan untaian kalung plastic di pergelangan tangannya.
Akhir tahun ini terasa sepi, 2007. Tahun penuh kehilangan yang dalam.
Aku berada diantara keceriaan mereka sepanjang pekan ini. Anak-anak kecil berlari, saling mempercandai, menghibur, dan menangis. Dan kini aku bingung, darimana baiknya aku bercerita.
Dia bernama Lisa, gadis kecil seusia anak kelas 2 SD yang mengidap kelainan jantung aneh. Aku tidak tahu pastinya apa, sepertinya sangat rumit untuk dijelaskan. Setidaknya itulah yang aku tangkap dari analisis dokter yang menanganinya. Dokter  tidak kunjung melakukan tindakan apa-apa bahkan setelah hampir tiga pekan Lisa berada di Bangsal A2 ini.
                Adikku mengungsi ke bangsal itu setelah aku mengantri kamar dari akhir bulan November, dengan hanya berbekal surat pengantar, SKTM dan kartu rawat jalannya.  Akhirnya, saat itu datang juga. Sebuah tempat tidur pojok bangsal A2 resmi menjadi “hotel” ku dan ibuku.
Atmosfir bangsal A2 bukanlah hal baru bagi adikku, maupun keluargaku. Hari-hari terakhirku merasakan kebersaman bersama Bapak, Superheroku, ya disini ini. Di ruang berisikan tangisan anak-anak dan rengekan manja para wanita pengidap kanker payudara. Bau nanah bercampur betadin berasa bau satai gosong menjadi aroma terapi penghias hidung kami di ruang ini.
Kali ini adikku mendapatkan jatah tempat tidur dipojok sebelah dinding ruangan, tidak seperti 5 bulan lalu ketika Bapak masih ada di tengah-tengah keceriaan keluarga kami, adik mendapat jatah di dekat pintu masuk ruangan. Ranjang itu masih bertuliskan, VA, 10 th, Postcolostomy, III, sama seperti dulu hanya saja, kali ini tidak ada sosok laki-laki yang menemani kami, yang namanya tertera di papan putih itu.
Lisa, yang tadi aku ceritakan, menempati ranjang depan adikku persis, diantara dua anak laki-laki pengidap Hypospadia, Bimo dan anak si juragan bakso, Awang. Lisa berasal dari satu Kabupaten yang kala itu dilanda bencana banjir besar. Rumahnya tengggelam setinggi atap sehingga dia tidak bisa kembali pulang walaupun dokter telah menyuruhnya untuk sementara rehat dirumah, sambil menunggu analisis tindakan yang akan dilakukan pada jantung anak malang ini.
Sepekan disana Lisa, Bimo, Awang, Saferi dan adikku menjalin persahabat yang saling mendukung. Lisa, Awang dan Adikku mendorong kursi roda Bimo menembus kerumunan menuju lift untuk hanya sekedar merasakan sensasi pusing setengah asyik naik turun ruangan tanpa meniti tangga. Ini semua agar Bimo tetap ceria dengan penis kecilnya yang gosong. Awang akan segera merasakannya. Lisa akan mengantarkan adikku yang selalu menangis ketika menuju ruang businasi dan washout. Dan adikku akan membagikan makanannya pada Lisa bahkan sebelum  ia datang untuk meminta.
Setiap hari sepulang kuliah, aku menghabiskan waktuku bercengkerama dengan mereka. Menceritakan tentang hujan, boneka Barbie, kembang api, dan simpang lima. Malam itu adalah malam pergantian tahun. Aku ceritakan pada anak-anak kecil itu tentang kembang api simpang lima yang akan melempem kena hujan. Suaranya hanya akan terdengar meletup-letup seperti suara angin adikku yang menggelembungkan plastik di perutnya.  Aku janjikan mereka untuk dapat jalan-jalan ke simpang lima, menyaksikan kejadian ajaib yang hanya terjadi satu tahun sekali. Namun kali ini aku hanya bergurau. Simpang lima yang aku janjikan  bukanlah sebuah pusat keramaian kota ini, melainkan sebuah persimpangan jalan no.5 yang menghubungkan koridor satu dengan yang lain. Maksudku, aku akan membawa mereka kesana, dan kemudian menyalakan kembang api (walau sepertinya, tidak mungkin dan itu tidak pernah terjadi)
Lisa menangis sejadi-jadinya. Dia ingin ke simpang lima, ingin melihat kembang api besar-besar membumbung dilangit. Dia meninju-ninju ibunya. Orang-orang satu bangsal bak keheranan. Tak pernah mereka melihat gadis setegar dan seceria Lisa menangis begitu hebatnya. Bahkan jarum suntik dan meja operasi saja tidak bisa membuatnya sebegitu sedu-sedan. Dan kali ini, karena bualanku, anak malang ini seperti mengamuk dan merasa tertipu. Dalam hati aku menyesal.
Tepat jam 00 suara kembang api meledak-ledak memekikkan telinga. Anak-anak terbangun. Bapak-bapak mereka keluar menuju teras bangsal menyaksikan kembang api simpang lima dari ketinggian balkon. Ibu-ibu meyakinkan anaknya bahwa tidak terjadi apa-apa. Hanya Lisa yang masih saja tertidur, capek menangis karena ulahku. Adikku sendiri terjaga dari tidurnya.
Dalam lirih ia berbisik ”Mbak, iki wes 1 Januari yo. Brati nyong ngesok mulai poso yo…..”
Aku hanya bisa terdiam. Aku genggam erat jemari adikku untuk menunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ada ibu dan Mbak. Ada Bapak yang selalu berdoa karena beliau kini lebih dekat dengan Tuhan.
Tahun itu, aku mulai dengan harapan dan keajaiban…..
Kadang aku ingin tahu, bagaimana kabar gadis kecil itu, apakah dia sudah sembuh dari sakitnya, apakah dia masih saja cerewet. Terakhir aku tahu kabar Lisa, dokter masih belum tahu bagaimana tindak lanjut pengobatannya. Semoga sekarang dia baik-baik saja, dan suatu saat dapat menyaksikan kembang api Simpang Lima…… 



 NB: Tulisan ini sudah pernah dipostingkan sebelumnya di blog www.,coconuttrees.blogspot.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar